Skip to the content

MADING DARING

  • Ramadhan Hari Ke-15: Sepi yang Bunyi

    Sudah setengah bulan, tapi piring-piring di meja tetap hanya bersuara sendirian. Sendok mengetuk mangkuk, tapi tak ada suara lain yang menyahut. Tidak ada ibu yang menegur kalau aku menuang teh terlalu penuh, tidak ada bapak yang menatap dari balik koran sebelum adzan Maghrib mengudara. Aku tumbuh dengan percaya bahwa Ramadhan bukan sekadar hitungan hari, melainkan ruang di mana waktu menjadi lebih lambat, di mana meja makan bukan sekadar tempat untuk berbagi makanan, tetapi juga detik-detik yang disimpan dalam ingatan. Kini,…

    March 14, 2025
    Catatan
  • 7 Puisi 2024

    kereta tak pernah benar-benar berhenti untuk kitastasiun ini adalah gerbong waktu yang terus berlari.kemana kau pergi?sedang aku tetap di sini.adakah waktu bagi kita untuk berhenti dan bertanya; apakah arti perjalanan?aku ingin melompat, tak peduli dimana stasiun terakhir.aku melihat wajah-wajah yang lelah mencari pulang.tapi, apakah mereka pulang?atau hanya menunggu perjalanan berikutnya,menuju rumah yang selalu jauh,selalu tak terjangkau. adakah arti perjalanan jika kita tak pernah tiba?di sini aku tetap mencari jejak langkah yang tertinggal di peron—sebuah tanda bahwa kita pernah ada,meski sebentar,meski…

    November 25, 2024
    Puisi
  • WIN ARTINYA MENANG

    10 Maret 2024, awal kembalinya sesuatu yang telah lama hilang: kebebasan di atas roda dua. Setelah lebih dari dua tahun menyusuri jalan dengan berjalan, berdesakan dalam angkutan umum —bukan karena sebuah sumpah suci atau keyakinan mulia, melainkan karena tak ada pilihan lain— menumpang hidup dari kebaikan teman atau deru kendaraan pinjaman, akhirnya hari ini aku datang membawa motor yang kupanggil milikku sendiri. Bukan motor mewah, bukan yang jadi pusat perhatian di jalan, tapi semacam pernyataan sunyi: bahwa aku pernah kalah,…

    March 17, 2024
    Catatan
  • YAKIN SELF-LOVE?

    Opini jelek ini mungkin akan membuatmu tidak nyaman. Maka, tinggalkan tulisan ini yang nulis Aku duduk di kamar dengan lampu remang, mendengar hujan mengetuk jendela seperti seorang kekasih yang meminta-minta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Di tengah situasi seperti ini aku berpikir bahwa mencintai diri sendiri adalah membungkus tubuh dengan selimut paling lembut, menyesap teh atau kopi yang hangat, lalu berkata pada diri sendiri, “Tidak apa-apa, kamu sudah cukup.” Tapi, semakin aku mengulang mantra itu, semakin aku sadar bahwa aku…

    August 2, 2023
    Catatan
  • Ngerasa Jadi Tom Hank di Film “A Man Called Otto”

    O-T-T-O adalah manifestasi dari jiwa yang menua dalam kesendirian, lelaki yang merasa dunia telah bergerak terlalu jauh meninggalkannya. Bagiku, O-T-T-O bukan hanya Tom Hanks dengan segala kepiawaiannya, tapi juga bayanganku sendiri—keras kepala, enggan beradaptasi, dan terperangkap dalam keakuan yang terlalu dominan. A Man Called Otto lebih dari sekadar drama kehidupan. Ia adalah ajakan untuk menelaah ulang: apakah keterasingan yang kita (lebih tepatnya, aku) rasakan adalah akibat dari dunia yang semakin dingin, atau justru karena kita (lebih tepatnya, aku) sendiri yang menutup…

    June 23, 2023
    Film

Recent Posts

  • Ramadhan Hari Ke-15: Sepi yang Bunyi
  • 7 Puisi 2024
  • WIN ARTINYA MENANG
  • YAKIN SELF-LOVE?
  • Ngerasa Jadi Tom Hank di Film “A Man Called Otto”

Archives

  • March 2025
  • November 2024
  • March 2024
  • August 2023
  • June 2023

Categories

  • Catatan
  • Film
  • Puisi

© MADING DARING.